Identitas Nasional pada hakekatnya adalah manifestasi
nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu
bangsa (nation) dengan ciri-ciri yang
khas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain (Wibisono Koento. 2005).
Identitas berasal dari kata identity
yang berarti ciri-ciri tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang
atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Dalam terminologi antropologi
identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri
pribadi sendiri, golongan, kelompok, komunitas atau negara sendiri. Kata
nasional dalam identitas nasional adalah merupakan identitas yang melekat pada
kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik
fisik seperti budaya, agama, bahasa maupun non fisik seperti keinginan
cita-cita dan tujuan. Istilah identitas nasional atau identitas bangsa
melahirkan tindakan kelompok (collective
action) yang diberi atribut nasional.
Globalisasi telah menempatkan manusia pada dunia tanpa
batas (borderless world). Globalisasi
yang disertai dengan revolusi di bidang teknologi dan di bidang informasi dan
komunikasi (ICT) membawa pengaruh pada lunturnya identitas nasional di kalangan
generasi muda. Berbagai kemudahan memperoleh informasi akibat akselerasi di
bidang ICT telah membuat generasi muda Indonesia yang merupakan tonggak
pembangunan bangsa teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi.
Penetrasi budaya antar bangsa begitu kuat sehingga tidak
bisa dibedakan mana budaya yang
berdampak positif dan mana budaya yang berdampak negatif dan cenderung destruktif. Ironis jika budaya yang saling mempengaruhi itu tidak bisa di filter oleh kalangan generasi muda dan cenderung untuk dijadikan “panduan” dalam berperilaku. Hal ini terjadi karena tidak kuatnya sistem filter yang dimiliki generasi muda pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Lunturnya budaya kegotong royongan, nilai-nilai toleransi, lebih membanggakan produk luar negeri daripada produk dalam negeri, pergaulan bebas remaja, munculnya beberapa peristiwa kekerasan di negeri ini menjadi indikator menurunnya kesadaran akan identitas nasional.
berdampak positif dan mana budaya yang berdampak negatif dan cenderung destruktif. Ironis jika budaya yang saling mempengaruhi itu tidak bisa di filter oleh kalangan generasi muda dan cenderung untuk dijadikan “panduan” dalam berperilaku. Hal ini terjadi karena tidak kuatnya sistem filter yang dimiliki generasi muda pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Lunturnya budaya kegotong royongan, nilai-nilai toleransi, lebih membanggakan produk luar negeri daripada produk dalam negeri, pergaulan bebas remaja, munculnya beberapa peristiwa kekerasan di negeri ini menjadi indikator menurunnya kesadaran akan identitas nasional.
Pasca reformasi tahun 1998 banyak muncul tuntutan untuk
memperbaiki bangsa ini dari berbagai macam penyimpangan di berbagai dimensi
kehidupan yang mengalami krisis identitas dan jati diri. Perilaku-perilaku elit
yang korup, manipulasi demokrasi dengan manipulasi hak-hak warganegara yang
menambah daftar keterpurukan bangsa ini harus segera diakhiri. Namun, reformasi
belum bisa menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi
bangsa ini. Perilaku korup bangsa ini belum bisa dihentikan meskipun demokrasi
berjalan beberapa langkah lebih maju daripada semasa era orde baru.
Akrobat-akrobat politik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh politik belum bisa
memberikan pendidikan politik yang sehat bagi warga bangsa. Peristiwa kekerasan
dan terorisme semakin menjauhkan kesan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
yang beradab yang mengagungkan nilai-nilai kemanusian.
Sementara bangsa ini sibuk dengan permasalahan kompleks
yang sedang dihadapi seperti yang disebutkan diatas, Nasionalisme kita terusik
karena beberapa kekayaan bangsa kita yang sudah menjadi “brand image” diambil dan diklaim oleh negara lain. Kekayaan bangsa
yang diambil negara lain misalnya: Reog Ponorogo, batik, alat musik Angklung,
Pulau Sipadan dan ligitan, beberapa daerah diperbatasan yang disengketakan dan
masih banyak lagi.
Dorongan untuk segera diadakan perbaikan dinegeri ini
semakin kuat. Masyarakat menuntut untuk segera diadakan restorasi di segala
bidang untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. Perlu adanya upaya untuk
memutus mata rantai penyebab keterpurukan bangsa ini. Mengangkat kembali
identitas nasional adalah agenda mendesak bangsa ini untuk memulihkan kembali eksistensinya
sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang santun serta disegani dalam pergaulan
internasional.
Salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan
identitas nasional adalah melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa
pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct). (Zaim. 2007). Ada dua fenomena
mengapa pendidikan adalah yang pertama dan utama.
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar
angkasanya yang pertama Sputnic pada 4 Oktober 1957, Amerika Serikat
“meradang”. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan teknologi yang paling
maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu memerintahkan
untuk membentuk special unit. Tim ini
tidak berkeinginan untuk menandingi Uni Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau
kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang Pendidikan Dasar sampai
tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang singkat tim
tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum
pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus
direvisi.
Amerikapun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam
segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar,
sarana pendidikan sampai pada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan
sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969
mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam
kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu
yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat
dasar sampai jenjang perguruan tinggi. (C. Winfield dan Scoot dalam Zaim.
2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang telah kalah dalam perang dunia II dengan
dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus
1945. Jepang praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang
waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah
dan air. Namun sang Kaisar langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya:
berapa orang guru yang masih hidup?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi
mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi
pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan
Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan
pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang
mengabaikan pendidikan maka tunggulah kehancuran dari bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep
kemerdekaan Indonesia, elemen bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A.
Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar
Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak lama berselang
giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan dengan
nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asy’ari ikut mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua
bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang terdidik mulai memikirkan
bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan.
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara
pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa. Warna pendidikan adalah warna suatu
bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui pendidikan diharapkan akan
memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk mempertahankan
karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun, bangsa
yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan
hendaknya tidak dilakukan setengah hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai
luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya identitas dan jatiri bangsa perlu
sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan terutama guru
yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah
bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja
misalnya Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran
dengan pendekatan sesuai karakteristik mata pelajaran yang diampuh.
Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan desain identitas
nasional kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan. Dalam
jangka pendek peyimpangan-penyimpangan perilaku generasi muda dapat ditekan
sedemikian rupa dan dalam jangka panjang generasi muda saat ini yang merupakan
miniatur masyarakat masa depan bisa menunjukkan perilaku-perilaku yang santun,
toleran, jauh dari tindak kekerasan. Generasi sekarang tidak akan. malu untuk
memakai budaya sendiri yang lebih memiliki filosofi daripada budaya bangsa
lain. Jika hal ini dilakukan maka cita-cita untuk menjadi bangsa yang besar dan
disegani akan terwujud. Salam kemerdekaan. Selamat berjuang !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beri Komentar