Kamis, 23 Agustus 2012

Agenda Memantapkan Identitas Nasional


Identitas Nasional pada hakekatnya adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu bangsa (nation) dengan ciri-ciri yang khas yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain (Wibisono Koento. 2005). Identitas berasal dari kata identity yang berarti ciri-ciri tanda-tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya dengan yang lain. Dalam terminologi antropologi identitas adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan, kelompok, komunitas atau negara sendiri. Kata nasional dalam identitas nasional adalah merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, bahasa maupun non fisik seperti keinginan cita-cita dan tujuan. Istilah identitas nasional atau identitas bangsa melahirkan tindakan kelompok (collective action) yang diberi atribut nasional.
Globalisasi telah menempatkan manusia pada dunia tanpa batas (borderless world). Globalisasi yang disertai dengan revolusi di bidang teknologi dan di bidang informasi dan komunikasi (ICT) membawa pengaruh pada lunturnya identitas nasional di kalangan generasi muda. Berbagai kemudahan memperoleh informasi akibat akselerasi di bidang ICT telah membuat generasi muda Indonesia yang merupakan tonggak pembangunan bangsa teracuni dengan berbagai dampak negatif globalisasi.
Penetrasi budaya antar bangsa begitu kuat sehingga tidak bisa dibedakan mana budaya yang
berdampak positif dan mana budaya yang berdampak negatif dan cenderung destruktif. Ironis jika budaya yang saling mempengaruhi itu tidak bisa di filter oleh kalangan generasi muda dan cenderung untuk dijadikan “panduan” dalam berperilaku. Hal ini terjadi karena tidak kuatnya sistem filter yang dimiliki generasi muda pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Lunturnya budaya kegotong royongan, nilai-nilai toleransi, lebih membanggakan produk luar negeri daripada produk dalam negeri, pergaulan bebas remaja, munculnya beberapa peristiwa kekerasan di negeri ini menjadi indikator menurunnya kesadaran akan identitas nasional.
Pasca reformasi tahun 1998 banyak muncul tuntutan untuk memperbaiki bangsa ini dari berbagai macam penyimpangan di berbagai dimensi kehidupan yang mengalami krisis identitas dan jati diri. Perilaku-perilaku elit yang korup, manipulasi demokrasi dengan manipulasi hak-hak warganegara yang menambah daftar keterpurukan bangsa ini harus segera diakhiri. Namun, reformasi belum bisa menjawab dan mencarikan solusi atas permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Perilaku korup bangsa ini belum bisa dihentikan meskipun demokrasi berjalan beberapa langkah lebih maju daripada semasa era orde baru. Akrobat-akrobat politik yang dilakukan oleh tokoh-tokoh politik belum bisa memberikan pendidikan politik yang sehat bagi warga bangsa. Peristiwa kekerasan dan terorisme semakin menjauhkan kesan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beradab yang mengagungkan nilai-nilai kemanusian.
Sementara bangsa ini sibuk dengan permasalahan kompleks yang sedang dihadapi seperti yang disebutkan diatas, Nasionalisme kita terusik karena beberapa kekayaan bangsa kita yang sudah menjadi “brand image” diambil dan diklaim oleh negara lain. Kekayaan bangsa yang diambil negara lain misalnya: Reog Ponorogo, batik, alat musik Angklung, Pulau Sipadan dan ligitan, beberapa daerah diperbatasan yang disengketakan dan masih banyak lagi.
Dorongan untuk segera diadakan perbaikan dinegeri ini semakin kuat. Masyarakat menuntut untuk segera diadakan restorasi di segala bidang untuk mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. Perlu adanya upaya untuk memutus mata rantai penyebab keterpurukan bangsa ini. Mengangkat kembali identitas nasional adalah agenda mendesak bangsa ini untuk memulihkan kembali eksistensinya sebagai bangsa yang beradab, bangsa yang santun serta disegani dalam pergaulan internasional.
Salah satu upaya untuk mengembalikan dan mengembangkan identitas nasional adalah melalui bidang pendidikan. Socrates menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pengembangan manusia kearah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct). (Zaim. 2007). Ada dua fenomena mengapa pendidikan adalah yang pertama dan utama.
Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yang pertama Sputnic pada 4 Oktober 1957, Amerika Serikat “meradang”. Amerika adalah negara besar dengan kemampuan teknologi yang paling maju merasa didahului oleh Uni Sovyet. Presiden AS ketika itu memerintahkan untuk membentuk special unit. Tim ini tidak berkeinginan untuk menandingi Uni Sovyet, tetapi tugasnya adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang Pendidikan Dasar sampai tingkat Perguruan Tinggi. Dengan bekerja keras dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi.
Amerikapun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai pada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 Juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perguruan tinggi. (C. Winfield dan Scoot dalam Zaim. 2007).
Kedua, kejadian yang hampir serupa ketika Jepang  telah kalah dalam perang dunia II dengan dijatuhi bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Jepang praktis lumpuh dalam segala sendi kehidupan. Bahkan Kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Namun sang Kaisar langsung memanggil pucuk pimpinan dan bertanya: berapa orang guru yang masih hidup?. Sebuah pertanyaan sederhana tapi mengandung makna bahwa pendidikan adalah awal segalanya.
Dua fenomena diatas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka tunggulah kehancuran dari bangsanya.
Di Indonesia, jauh sebelum Bung Karno menggagas konsep kemerdekaan Indonesia, elemen bangsa yang berbasis pendidikan seperti R.A. Kartini, HOS Cokroaminoto, Dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara, sudah memikirkan bangsa ini lewat pendidikan. Tidak lama berselang giliran KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi sosial dan kependidikan dengan nama Muhammadiyah. Lewat satu Dekade berikutnya KH. Hasyim Asy’ari  ikut mencerdaskan bangsa dengan NUnya. Semua bermuara pada pendidikan. Hasilnya, semua orang terdidik mulai memikirkan bangsa dan berusaha lepas dari penjajahan.
Dari uraian di atas nampak adanya keterkaitan antara pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa. Warna pendidikan adalah warna suatu bangsa. Identitas nasional yang dikembangkan melalui pendidikan diharapkan akan memberi harapan positif bagi kemajuan bangsa ini untuk mempertahankan karakteristiknya sebagai sebuah bangsa yang beradab, bangsa yang santun, bangsa yang toleran, bangsa yang menghargai perbedaan dan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Pemantapan identitas nasional melalui dunia pendidikan hendaknya tidak dilakukan setengah hati dan parsial. Transformasi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang memacu tumbuhnya identitas dan jatiri bangsa perlu sinergi dari pihak-pihak yang berkompeten di dunia pendidikan terutama guru yang bersentuhan langsung dengan siswa, dan yang perlu diperhatikan adalah bahwa tugas ini tidak hanya menjadi tugas guru mata pelajaran tertentu saja misalnya Pendidikan Kewarganegaraan, tetapi juga semua guru mata pelajaran dengan pendekatan sesuai karakteristik mata pelajaran yang diampuh.
Melalui dunia pendidikan dapat ditanamkan desain identitas nasional kepada generasi muda yang merupakan miniatur masyarakat masa depan. Dalam jangka pendek peyimpangan-penyimpangan perilaku generasi muda dapat ditekan sedemikian rupa dan dalam jangka panjang generasi muda saat ini yang merupakan miniatur masyarakat masa depan bisa menunjukkan perilaku-perilaku yang santun, toleran, jauh dari tindak kekerasan. Generasi sekarang tidak akan. malu untuk memakai budaya sendiri yang lebih memiliki filosofi daripada budaya bangsa lain. Jika hal ini dilakukan maka cita-cita untuk menjadi bangsa yang besar dan disegani akan terwujud. Salam kemerdekaan. Selamat berjuang !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri Komentar